Monday, 29 May 2017

Semuanya Fans Ferrari

Jika yang membaca artikel ini adalah angkatan kelahiran 80-90’an, akuilah… Jauh di hati kecil kita pasti ada benih seorang fans Ferrari.

Saya besar di era Michael Schumacher berjaya awal 2000-an silam, bareng kedahsyatan lengkingan suara mesin Formula 1 Ferrari. Yang sekaligus jadi trademark balap jet darat tersebut, dan jadi alasan EA’s Blog dulunya adalah seorang bocah fans F1. Which is, now, gone. Begitupun dengan excitement saya.




Tapi setelah musim 2017 ini Sebastian Vettel bersama tim Scuderia Ferrari berhasil mengasapi jauh The Silver Team a.k.a Mercedes bareng Lewis Hamilton, perlahan tapi pasti, (saya juga nggak tahu kenapa) excitement saya terhadap F1 mulai tumbuh. Lagi.


Alasan kedua setelah Ferrari, adalah karena saya menyukai style dan guyonan ala Sebastian Vettel. Ditambah satu tim bareng Kimi Raikkonen, wah ampun deh, pecah gans! Saya yakin keduanya cocok bikin acara lawak sendiri sebagai selingan balap F1 deh… Jangan lupa jurinya Om Indro Warkop ya, biar kompor gas!

Saya nggak membenci Lewis Hamilton atau Valtteri Bottas – apalagi, in fact, Lewis berkebangsaan Inggris, Negara yang kulturnya saya idolakan. Tapi saya rasa keduanya terlalu dingin, bersikap seolah cool, entah saat race ataupun di luar track.

Oke, back to Ferrari.



Di luar balap Formula 1, sebenarnya ada banyak mobil-mobil kenamaan yang saya kagumi… Meskipun kedengarannya bakal absurd sih, karena (aslinya) EA’s Blog bukan fans dunia Roda 4. Tapi, mobil seperti BMW M3, Mazda RX-8, Ford Focus, hingga supercar laiknya Bugatti Veyron, McLaren F1, ataupun kegilaan Lamborghini (lawas) bersama ideologinya sempat mencuri serpihan di hati kecil ini. Tapi kalau ditanya mobil apa yang paling diinginkan di dunia ini? Saya bakal jawab dengan sangat lantang: Ferrari.

Dari beberapa majalah roda 4 (luar negeri) yang pernah EA’s Blog baca, kesimpulannya, Porsche punya stabilitas yang jauh lebih bagus dari Ferrari. Lamborghini punya “madness” yang nggak dimiliki mobil Ferrari. Mercedes selalu menemukan alternative baru yang membuatnya terdepan dalam hal teknologi ketimbang Ferrari. Dan Toyota, well, setidaknya mereka mampu menjual mobil beratus kali lipat lebih banyak dari Ferrari - termasuk Pagani & Koenigsegg yang menjual lebih banyak poster produknya.


Pantaskah semua yang disebutkan tadi saya kagumi? Yes, tentu saja! So, apakah mulai bisa berpaling dari Ferrari? Absolutely not!


Saya nggak tahu kenapa. Saya juga mungkin belum tentu bisa handle power mobil dahsyat milik Ferrari. Tapi Ferrari ya Ferrari. Brand mobil yang paling special bagi anak berusia 10 tahun, pria belajar dewasa seperti saya, hingga yang berusia lanjut laiknya 3 presenter Grand Tour.

Kita boleh menyukai Mercy, BMW, Honda, Toyota, Lambo, atau seabrek produsen roda 4 kenamaan lain… Tapi akuilah, jauh di hati kecil kita pasti ada benih seorang Fans Ferrari.

Friday, 9 December 2016

Pelajaran Dari Masa Kecil (Yang Nggak Disadari)

Masa kecil saya dihabiskan seperti anak kecil pada umumnya. Anak kecil di jaman saya maksudnya, generasi 90'an. Bersepeda, Kumpul bocah, Main basket, Nonton kartun, Ultraman, sampai Adu bacot nama bapak-ibu kalau ada percekcokan. Romantisme & percintaan baru saya temui ketika umur menginjak belasan tahun... Entah saya yang telat urusan percintaan, atau anak kecil jaman sekarang yang terlalu cepat memahaminya.



Thursday, 1 December 2016

Style Riding Saya Lebih Lambat dari Blogger Lain

Silahkan tanya rekan-rekan Blogger lain yang pernah riding/touring bareng EA's Blogging... Jika ditanya siapa yang selalu tercecer dibelakang, pasti salah satu nominasinya adalah saya. Bahkan mang kobayogas.com memberi julukan saya 'gadis', karena gaya riding yang super-defensif dan terkesan penakut. Menurut Beliau. So, kenapa Kang Eno memilih jadi kura-kura ketimbang cheetah?




To be honest, menurut saya nggak ada yang lebih lambat antara kura-kura dan cheetah. Keduanya sama-sama cepat di habitatnya masing-masing... Silahkan tes seekor cheetah berenang di sungai, kemudian lihat speednya. Itupun kalau Brosist berani membujuknya.

Tuesday, 29 November 2016

Politik Ibarat Virus Ebola & HIV

Virus Ebola & HIV... Keduanya sama-sama penyakit mematikan, yang dengan mengucapkannya saja mampu membuat saya berkata "amit-amit". Perbedaannya, yang satu mungkin belum Brosist ketahui karena lebih banyak tersebar di Afrika, dan satunya lagi mungkin lebih familiar di telinga kita karena melanda Eropa-Amerika-Asia. Dan menurut saya, hitam-putih dunia politik tak ubahnya 2 virus tersebut.



Tuesday, 27 September 2016

Sulitnya jadi Blogger Kreatif di Indonesia...

Indonesia penuh dengan orang-orang yang kreatif. Itu fakta… Nggak usah jauh-jauh, silahkan lihat cerminan diri Brosist masing-masing, yang (saya yakin) hingga saat ini begitu hebatnya menghadapi beribu persoalan pelik di tanah air: Hukum, Uang, Sosialita, Kesenjangan Bermasyarakat, Uang, Kehidupan Bermotor, Keluarga, Uang dan lain sebagainya… Sorry, berapa kali saya sebut uang?




Tapi kalau berbicara dalam penerapannya di lapangan, nah, kadang ini yang menjadi masalah… Saking kreatifnya orang-orang di Indonesia, sampai-sampai segala cara pun dilakukan untuk jadi pribadi yang kreatif – termasuk ‘copypaste’ di dunia Blogging.

Sunday, 31 July 2016

Mr. Movie-Man ...

Dalam sebuah siklus industri perfilman, ada banyak sekali sosok yang berpengaruh. Mulai dari produser, sutradara, cameraman, tim make-up, editor, aktor dan seabrek yang lainnya. Sorry, saya nggak bermaksud menyinggung para ABG alay-cabe-ababil yang cuma paham Aliando dan “Boy” Anak Jalanan...




Mereka punya tugasnya masing-masing dan saling terhubung satu sama lain, hingga membuat sebuah lingkaran produksi film yang bisa kita nikmati di bioskop-bioskop kesayangan… Atau mungkin tepatnya di situs film gretongers kesayangan, kalau artikel ini ‘Based-on Indonesia’. Nah, bagaimana jika ada pertanyaan seperti ini: Dalam sebuah siklus pembuatan film, Sosok mana yang menggambarkan karakter kita? 

Monday, 25 July 2016

Kenapa Selalu ada Aura Kasih di EA's Blog?

Kalau Brosist sekalian sering membaca artikel di EA’s Blog (artikel pengereman ini contohnya), maka nggak bakal asing lagi dengan nama yang satu ini: Aura Kasih. Well, sebenernya sih nggak begitu penting-penting banget, tapi mengingat banyak pembaca yang mempertanyakan… So here’s the truth!




Wednesday, 13 July 2016

Demam Film "Found Footage"...

Saat artikel ini ditulis, mungkin orang-orang lagi sibuk bahas film "Independence Day: Resurgence" yang lagi booming. Dari yang rame bahas spoiler, minta traktir nonton sama gebetan, sampai yang setia nunggu link filmnya aktif di web lokal... Persis saya contohnya, hahahaa. Tapi bukan ide tersebut yang ada di ujung jemari lentik saya, Melainkan sebuah genre movie (film) yang baru-baru ini bikin semangat nonton lagi: found-footage! Nah yuk kita bahas. . .


Demam Film "Found Footage" - Apollo 18


Kalau ada yang ikuti timeline facebook pribadi EA's Blogging (bukan fanspage), pastinya sudah paham kalau saya itu salah satu pecinta film bergenre sci-fi. Alasannya banyak, kalau disebutkan satu-persatu malah bisa dijadikan artikel sendiri deh. Pokoknya film seperti "2001: A Space Odyssey", "Interstellar", "I Origins", "Inception", "Predestination", "National Treasure-series", dan seabrek film sci-fi lainnya sampai pernah saya tonton berkali-kali. Addicted ya Kang? Ah nggak juga sih ya, cuma asik aja kalau sesekali "nyetrum" otak biar bisa berimajinasi lebih jauh.