Saturday, 3 March 2018

Baterai, Kendaraan Elektrik & Sumber Energi yang Cuma "Alternatif"

Sudah 1 abad lebih dunia otomotif bersahabat dengan bahan bakar minyak. Sejak saat itu pula banyak pakar yang mengembangkan bahan bakar alternatif, mulai dari biji karet (jarak), kelapa sawit, hingga biogas yang diekstrak dari tai kebo. Beneran tai kebo, serius, nggak bercanda.

Tapi karena nggak mau capek-capek tanam sawit & jarak - apalagi panen tai kebo yang masih hangat - semua yang disebutkan tadi dibuang ke laut. Kemudian digantikan oleh sumber tenaga alternatif laiknya baterai (listrik), hidrogen - bahkan sampai sumber tenaga favorit Kim Jong-un, Nuklir.



Baterai listrik a.k.a elektrik layak mendapatkan perhatian utama. Karena so far, baru teknologi inilah yang sudah banyak dipakai di motor, mobil elektrik, hybrid, bahkan hingga hybrid hypercar. Baterai digunakan sebagai sumber tenaga untuk penggerak motor listrik, magic happen, kemudian wusshh... Terciptalah Emflux One, Zero Electric Bike, hingga Energica Ego yang bakal digunakan di MotoGP Elektrik beberapa tahun kedepan.

Sumber tenaga listrik ini bukan tanpa kelemahan, semua ada plus minusnya. Waktu charging yang luar biasa lemot, jarak tempuh yang pendek, bobot baterai yang luar biasa berat, dan seterusnya. Wajar, karena kesempurnaan hanya dimiliki Tuhan YME, bukan begitu? Apa gunanya manusia dianugerahi akal pikiran kalau nggak bisa menemukan solusinya? Buat streaming JAV doang? Move on!

Tapi plus-minus tersebut berdasarkan sudut pandang penggunaan. Bagaimana dari sudut pandang yang digembar-gemborkan sebagai "sumber energi alternatif"?


Kata ahli lingkungan hidup diluar sana, dunia otomotif nggak bisa terus-terusan bergantung kepada bahan bakar minyak yang berbasis fosil. Bahan bakar dari bangke dinosaurus & amuba yang membusuk jutaan tahun lalu ini dinilai jumlahnya terbatas. Selain itu, emisi gas buang yang dihasilkan juga diklaim berbahaya bagi kelangsungan hidup beruang kutub. You know, global warming.

So, disinilah kelebihan mutlak kendaraan berbasis baterai listrik yang sama sekali nggak punya emisi gas buang berbahaya, a.k.a Zero Emission. Sayang, cara memproduksi baterai listrik ternyata nggak "se-ramah" embel-embelnya.


Ribuan anak-anak di Kongo dipaksa mempertaruhkan nyawa di pabrik Kobalt milik Tiongkok. Penambangan kobalt disana benar-benar mengerikan. Kalau penasaran silahkan cek sendiri lewat youtube. Kenapa menghubungkan Kobalt dengan baterai? Ya, karena kobalt adalah salah satu elemen (mineral) penting dalam baterai lithium ion. Dan yang perlu diingat, baterai di mobil/motor listrik ukurannya jauh-uh-uh lebih besar dibanding baterai di smartphone kesayangan kita. Which means, membutuhkan lebih banyak Kobalt.

Selain itu pernahkan kita memikirkan bagaimana proses produksi baterai? Baterai lithium ion yang jadi sumber tenaga kendaraan elektrik bukan diproduksi secara sim-salabim-prok-prok-prok kayak sulap Mbah Tarno. Baterai ini juga diproduksi secara industri oleh kombinasi teknisi & robot canggih, which is (pabrik) membutuhkan suplai listrik dalam jumlah besar.

Darimana datangnya listrik untuk industri? Dari sambaran kilat di musim penghujan? Nggak, tapi lewat pembangkit tenaga (which is sayangnya) yang masih bergantung dari bahan bakar fosil...


So, saat pabrikan memperkenalkan kendaraan elektrik baru dengan harapan bisa menjaring konsumen. Saat itu juga mereka melecut ribuan penambang di kongo untuk mempertaruhkan nyawa, sambil menyiapkan bensin untuk sumber energi pabrik.

Tapi jangan kaget, karena namanya hanyalah "sumber tenaga alternatif", bukan "sumber tenaga solusi segala problematika bullshit bahan bakar fosil". Di dunia kendaraan elektrik, pemakaian bahan bakar fosil cuma dipindah dari tangan konsumen, ke produsen. Orang-orang penting yang kerjaannya pidato depan publik, menyebutnya sebagai 'alternatif'.

No comments:

Post a Comment